Tanda Malapetaka Baru: Dunia Bisa ‘Runtuh’ 2025

Studi terbaru mengungkapkan potensi keruntuhan sistem Gulf Stream (Arus Teluk) pada tahun 2025. Penutupan sirkulasi laut yang sangat penting ini, yang disebut Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) oleh para ilmuwan, berpotensi menyebabkan dampak bencana iklim.

Gulf Stream adalah salah satu arus air laut yang paling terkenal, yang mencegah daerah-daerah dekat kutub utara membeku.

Arus laut hangat tersebut mengalir di Atlantik Utara ke arah timur laut, melewati lepas pantai Amerika Utara antara Cape Hatteras, North Carolina, Amerika Serikat (AS), dan Grand Banks of Newfoundland, Kanada. Gulf Stream juga mencakup Arus Florida (yang berada antara Selat Florida dan Cape Hatteras) serta Arus Angin Barat (yang berlokasi di sebelah timur Grand Banks).

Sementara AMOC membuat air laut hangat ke utara menuju kutub, yang mana air tersebut terlalu dingin dan tenggelam, menciptakan arus Atlantik. Namun, masuknya air segar dari pencairan lapisan es Greenland yang semakin cepat dan sumber-sumber lainnya sedang menyempitkan dan memperlambat pergerakan arus laut tersebut.

“Kita seharusnya sangat khawatir,” kata Peter Ditlevsen, seorang Profesor di University of Copenhagen di Denmark yang memimpin studi baru tersebut, seperti yang dikutip dari The Guardian pada Rabu (26/7/2023).

“Perubahan ini akan menjadi sangat, sangat besar. AMOC belum pernah mati selama 12.000 tahun,” ungkapnya.

Saat ini, situasi AMOC diketahui sebagai yang terlemah dalam 1.600 tahun karena dampak dari pemanasan global. Para peneliti telah mengamati tanda-tanda peringatan dari titik kritis pada tahun 2021.

Analisis terbaru memperkirakan kalau keruntuhan AMOC akan terjadi antara tahun 2025 dan 2095, dengan perkiraan pusat pada tahun 2050, jika emisi karbon global tetap. Bukti dari masa lalu menunjukkan bahwa selama zaman es, terjadi perubahan suhu hingga 10 derajat Celcius dalam beberapa dekade akibat keruntuhan AMOC.

Baca juga  Baca Novel Miliki Aku Om Full Episode

Keruntuhan AMOC akan membawa konsekuensi bencana global. Siklus hujan yang sangat penting untuk pertanian di India, Amerika Selatan, dan Afrika Barat akan terganggu. Selain itu, di Eropa, terjadi peningkatan badai dan penurunan suhu, sementara di pantai timur Amerika Utara, permukaan laut akan naik. Runtuhnya AMOC juga akan semakin mengancam hutan hujan Amazon dan lapisan es Antartika.

AMOC telah mengalami keruntuhan dan pulih berulang kali selama siklus zaman es yang berlangsung dari 115.000 hingga 12.000 tahun yang lalu. Ini merupakan salah satu titik kritis iklim yang paling menjadi perhatian para ilmuwan karena meningkatnya suhu global saat ini.

Penelitian pada tahun 2022 mengindikasikan bahwa sudah ada lima titik kritis berbahaya yang kemungkinan telah terlewati akibat pemanasan global sebesar 1,1 derajat Celcius hingga saat ini. Titik-titik kritis tersebut termasuk penghentian AMOC, keruntuhan lapisan es Greenland, dan pencairan tiba-tiba permafrost yang mengandung banyak karbon.

Studi terbaru, yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, menggunakan data suhu permukaan laut sejak tahun 1870 sebagai proksi untuk melacak perubahan kekuatan arus AMOC dari waktu ke waktu.

Kemudian, para peneliti memetakan data ini ke jalur yang menunjukkan pola yang mendekati jenis titik kritis tertentu yang disebut “bifurkasi simpul pelana”.

Dengan menggunakan ekstrapolasi data, para peneliti dapat memperkirakan kapan titik kritis kemungkinan akan terjadi. Analisis statistik lebih lanjut juga memberikan ukuran ketidakpastian dalam estimasi tersebut. Ditlevsen menyatakan bahwa data tersebut sangat mengejutkan.

Sumber : cnbcindonesia.com