Selama tiga hari terakhir, mampukah rupiah melanjutkan penguatannya?

Kuncishock News – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dalam fokus pasar finansial.

Dalam tiga hari terakhir, rupiah telah mengalami penguatan, menguat sebesar 0,33% terhadap dolar AS pada Kamis (24/8/2023).

Penguatan ini merupakan yang terkuat sejak 11 Agustus 2023 dan menandai tiga hari beruntun kenaikan nilai tukar rupiah.

Kondisi ini terjadi seiring dengan keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Meskipun rupiah menguat, pasar masih menantikan pidato Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (The Fed) AS, yang dijadwalkan akan berbicara dalam Simposium Ekonomi Jackson Hole di Wyoming.

Para pejabat The Fed, termasuk Powell, berkumpul dalam acara ini untuk membahas isu-isu ekonomi yang mendesak.

Simposium ini akan membahas “Pergeseran Struktural dalam Ekonomi Dunia” dan mungkin akan fokus pada langkah-langkah yang akan diambil oleh bank sentral, terutama dalam konteks peningkatan suku bunga dan mengendalikan inflasi yang meningkat.

Jerome Powell akan menyampaikan pidatonya pada Jumat (25/8/2023), di mana dia akan memberikan pandangannya tentang apakah langkah-langkah ketat lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi inflasi tinggi, atau apakah akan mulai mempertimbangkan untuk mempertahankan suku bunga.

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya dijadwalkan pada 19-20 September 2023.

Di tingkat domestik, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Keputusan ini sejalan dengan upaya BI untuk menjaga inflasi tetap terkendali dalam kisaran 3% plus minus 1% pada tahun 2024.

Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan fokus kebijakan moneter BI pada penguatan stabilitas nilai tukar rupiah, yang akan membantu mengatasi dampak dari ketidakpastian di pasar keuangan global.

Perry Warjiyo juga menyatakan bahwa BI akan terus memperkuat kebijakan untuk memelihara stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca juga  Goldman Sachs predicts that by 2075, India will surpass the United States to become the world's second-largest economy